Perkuat ABS-SBK, Cara Bupati Agam Selamatkan Generasi Muda Minangkabau

Laporan Depitriadi – Tanjung Raya

Generasi muda di Minangkabau, termasuk di Kabupaten Agam akan terus tumbuh mengikuti perkembangan zaman. Konsekuensinya, pemahaman akan nilai-nilai dan falsafah Minangkabau kian melemah.

Jika pewarisan adat terputus, bukan tidak mungkin pula, generasi muda bakal kehilangan jati diri sebagai bagian dari entitas adat Minangkabau.

Hirau akan hal tersebut, Bupati Agam, Dr. H. Andri Warman, MM merasa perlu memintas sebelum hanyut, mencari sebelum hilang.

Setidaknya terdapat tiga jurus jitu dalam membentuk generasi muda Agam yang berkarakter. Salah satunya program di bidang adat istiadat.

Itulah benang merah dari perbincangan Dr. H. Andri Warman, MM bersama Maestro Adat Minangkabau, Angku Yus Dt. Parpatiah (kini bergelar Bandaro Bodi), Jumat (11/9) di Jorong Nagari, Nagari Sungai Batang, Kecamatan Tanjung Raya.

Kedatangan orang nomor satu di Kabupaten Agam ke kediaman penggiat adat Minangkabau itu guna mendiskusikan kekinian generasi muda. Pada kesempatan itu pula, bupati meminta sumbang saran seputar adat istiadat.

“Hari ini kita berada di rumah buya Yus Dt. Parpatiah, kita minta pendapat dari beliau tentang bagaimana cara meningkatkan adat tradisi minang, khususnya di bidang adat istiadat di Kabupaten Agam,” ujar bupati.

Dijelaskan lebih lanjut, sebagai kepala daerah untuk beberapa tahun kedapan, pihaknya telah merancang program-program ekstrakurikuler bagi pelajar yang notabene generasi muda.

“Ada tiga program, pertama di bidang agama, kedua bidang adat istiadat, dan ketiga bidang bahasa Inggris,” sebutnya.

Khusus bidang budaya, Pemerintah Kabupaten Agam bakal menggandeng Angku Yus Dt. Parpatiah sebagai tim ahli. Melalui pengalaman sang maestro, bupati berharap terjadi transfer pengetahuan adat istiadat kepada generasi penerus.

“Pemerintah Kabupaten Agam tengah menyusun tim sesuai keahlian, saya berharap supaya buya bisa masuk tim budayawan dan sekaligus menjadi mentor yang fokus mengenai tradisi dan adat istiadat,” pinta bupati.

Bak gayung bersambut, pegiat budaya yang familiar dengan karya fenomenal Pitaruah Ayah itu mengaku antusias dan bersedia menyokong program ekstrakurikuler Pemerintah Kabupaten Agam, khususnya seputar kebudayaan.

“Mendengar garis besar gagasan beliau, sebagai orang nomor satu, saya pribadi sangat menyokong dan antusias sekali. Tentang kedepannya, saya sangat tertarik dengan pengalaman bapak bupati kembali ke kampung halaman dan tergugah hatinya untuk membangun kampung halaman,” ucapnya.

Menurutnya, pengalaman bupati di perantauan menjadi bekal tersendiri untuk melakukan pengabdian. Dirinya meyakini, motivasi bupati tiada lain selain membangun Kabupaten Agam menjadi lebih maju.

Sasudah awak bajalan-jalan, tantu nampak musajik urang takana surau awak, itulah dasar beliau untuk mengabdi. Sebab dalam hal lain, saya tidak yakin, bupati mengharapkan hal lain selain pengabdian, sebab saya tau betul dengan beliau,” tutur Angku Yus Dt. Parpatiah.

Dirinya menilai, gagasan Bupati Agam sangat sejalan dengan apa yang telah ia lakukan. Dikatakan, ide membangun kampung halaman yang diusung bupati sesuai dengan niat yang ada di hatinya sejak beberapa kurun terakhir.

“Apa yang menjadi ide beliau, juga sama dengan niat saya, saya pulang kampung dua tahun yang lalu, dengan tujuan yang sama, bahwa di sisa usia hendaknya kita bisa mengabdi untuk kampung halaman. Kalau bukan kita siapa lagi, kalau bukan sekarang kapan lagi,” tuturnya.

Dalam hematnya, saat ini banyak perantau yang meninggalkan kampung. Namun, hanya sedikit yang kembali ke kampung. Ia menyebut demikianlah kondisi real sekarang ini.

“Untuk itu, kalau dipikir kembali, banyak bangkalai alun sudah, karangko alun tajadikan, ini adalah bangkalai kito basamo-samo bukan hanyo pemerintah. kita harus serentak, seayun, selangkah memikirkan kampung,” jelasnya lagi.

Tentang adat istiadat, Angku Yus Dt. Parpatiah juga meyakini terjadi persoalan yang sama hampir di seluruh Minangkabau. Saat ini, banyak generasi muda yang beradat dan berlimbaga namun tidak paham makna dan hakikat Minang itu sendiri.

Bangkalai (pekerjaan) kita sekarang adalah meminangkan orang minang. Jadi orang minang sudah, dimana punya suku, punya pusako tinggi, punya rumah gadang, punya penghulu, tapi bagaimana kriteria minang dan hakikatnya masih menjadi persoalan,” terangnya.

Dalam hematnya, tantangan kedepan sangat berat, terutama tentang fungsi ninik mamak dan lembaga adat. Dikatakan lembaga adat harus menjadi lembaga pembinaan tugas kerja ninik mamak dan perangkat adat.

“Sebagaimana gagasan bapak bupati tentang membina generasi muda, juga harus dipersiapkan, sebab jika tidak ada yang memberi dan yang menerima, artinya pesan-pesan dan pewarisan adat akan lenyap,” ulasnya.

“Saya sendiri sangat bersyukur, sangat mengharapkan dan mendukung, terutama tentang kehidupan beradat. Syarak mangato adat mamakai, ini yang harus dimiliki intelektual dan angkatan muda kita,” tambah Angku Yus Dt. Parpatiah.

Angku Yus Dt. Parpatiah juga menilai, generasi muda saat ini tidak bisa lagi beradat secara dogmatis. Ia melihat saat ini banyak yang cuma melaksanakan adat, namun hakikatnya tidak tahu. Untuk itu diperlukan semacam pengetahuan tentang hal tersebut.

“Saya sangat prihatin dan khawatir, bagaimana generasi kedepan, kalau kita tidak memulai sekarang mungkin minang tinggal nama saja. Akan terancam, kalau hanyuiknyo indak kito pinteh, hilangnyo indak kito cari,”

Kok talamunnyo kito kakeh, kok talipeknyo kito kambang, jadi kita harus bersama-sama, satukan pendapat, pola pikir dan bergerak,” ajaknya.

Pada kesempatan itu, Angku Yus Dt. Parpatiah juga menyarankan untuk membangkitkan nilai-nilai pendidikan surau guna membentuk karakter generasi Minang yang Islami.

Dirinya mengakui perkembangan zaman telah mempengaruhi karakteristik pendidikan surau. Namun, semangat pendidikan yang dimiliki surau harus tetap dilestarikan dan digelorakan kembali.

Menurutnya, semangat pendidikan surau tempo dulu adalah membina manusia siap pakai. Dikatakan, surau bukan hanya tentang hubungan makhluk dengan sang khalik, tapi juga hubungan dengan sesama.

“Pendidikan surau itu mempersiapkan manusia untuk dirinya dan masyarakat. Nah, nilai ini yang sudah kabur. Memang kita tidak mungkin menyuruh anak-anak tidur di surau, karena zamam berubah, tinggal nilai-niali yang kita terapkan, sebab kita merasakan sendiri, banyak cendikiawan dulu keluaran surau,” terangnya.

Dalam hal pada itu, dirinya juga berharap peran serta perantau lebih ditingkatkan lagi. Dikatakan, tanpa dukungan orang rantau, kampung menjadi tidak berdaya, terutama soal finasial.

Urang rantau kok takalok kamanjagokan, kok lupo kamanganakan, tantang kewajiban untuk kampung halaman. Sesuai pantun lama, lagu lagah bunyi padati, padati rang sungai batang, bunyi ganto barigo-rigo, walau sasuok dapek pagi, sasuok dapek patang, kanalah juo kampuang kito,” ujarnya. (*)

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *