Perlu Kolaborasi Kuat Kembangkan Ekonomi Kreatif Berbasis Potensi Lokal

  • Bagikan

Lubuk Basung, AMC – Asisten III Sekretariat Daerah Kabupaten Agam, Syatria, S.Sos, M.Si mengatakan, Pemda memiliki peran dalam pengembangan ekonomi kreatif berbasis potensi lokal.

Syatria mencontohkan di Nagari Matua Hilia. Menurutnya, potensi yang dimiliki Nagari Matua Hilia harus diperkuat perannya dalam pengembangan ekonomi kreatif berbasis potensi lokal di wilayah tersebut. 

“Dalam konteks pembangunan daerah, pengembangan sektor pariwisata berbasis kearifan lokal menjadi salah satu strategi yang dapat memberikan dampak ekonomi  dengan mempertahankan identitas budaya suatu daerah,” kata Syatria saat menjadi narasumber Focus Grup Discussion (FGD) dan diseminasi hasil pengabdian kepada masyarakat Program Equity-The Impact Ranking 2025 sampai 2026 Universitas Negeri Padang (UNP).

Selain itu, banyak produk UMKM sebagai oleh-oleh yang dijual di nagari ini dan daerah sekitar yang cukup dikenal seperti,  gula saka, gula semut, kacang goreng/randang, kerupuk ubi saka, minuman air tebu, nasi tanguli, tumbang dan labu kuning terbaik di Sumatera Barat.

“Semuanya harus kita kemas menjadi inovasi dalam paket wisata berbasis kearifan lokal. Seperti pertunjukan seni tradisional dan kuliner khas, perlu dikembangkan sebagai daya tarik tambahan bagi wisatawan,” ujarnya.

Syatria optimis, dengan implementasi strategi ini secara sinergis dan berkelanjutan, sektor pariwisata di Nagari Matua Hilia dapat berkembang lebih pesat dan memberikan dampak ekonomi yang signifikan bagi masyarakat setempat.

Saat ini, Nagari Matua Hilia juga memiliki berbagai objek wisata termasuk wisata minat khusus seperti taman wisata Guguak Endah yang menyuguhkan pemandangan alam yang indah, Wisata Batang Kasiak, Pincuran Gadang, Aia Maambau, Wisata Arung Jeram Batang Matua Wisata. Ditambah Matur Katik, juga memiliki Wisata Aia Sonsang dan Wisata Goa Inyiak Janun. 

Potensi itu kian lengkap dengan adanya destinasi wisata dan UMKM berbasis kearifan lokal di sekitarnya seperti Puncak Lawang, Balai Adat Matur, Rumah Gadang Mudiak Pasar Matur dan Ambun Tanai. 

Agar potensi itu bisa dimaksimalkan, kata Syatria perlu adanya kolaborasi antara pemerintah, perguruan tinggi, dan sektor swasta dalam membangun dan mengembangkan ekonomi kreatif berbasis potensi lokal yang lebih kompetitif. Serta dalam strategi promosi berbasis digital untuk menjangkau pasar yang lebih luas.

“Melalui FGD ini juga menggali peran pemerintah, akademisi dan stakeholder lainnya dalam mendukung penguatan dan pemberdayaan UMKM berbasis potensi lokal,” ujarnya lagi.

Kegiatan ini juga dihadiri Direktur Kerjasama Reputasi dan Internasionalisasi UNP, Dekan FEB UNP, Ketua LPPM UNP. Narasumber dan peserta FGD ini terdiri dari perwakilan pemerintah daerah dan pelaku UMKM dari Kota Padang, Agam, dan Tanah Datar.

Narasumber lainnya juga menghadirkan tim pengusul yaitu Prof. Dr. Desnita, M.Si yang menyajikan pemaparan dengan judul PKM (Green Entrepreneurship: Pengembangan Produk Lokal Berbasis Zero Waste),  Prof. Dr. Wening Patmi Rahayu, S.Pd, MM dari Universitas Negeri Malang yang menyajikan pemaparan dengan judul Transformasi UMKM Berkelanjutan melalui Inovasi, Digitalisasi, dan Penguatan Daya Saing.

Lalu, dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) yaitu Dr. Arif Sabta Aii, S.Gz yang menyajikan pemaparan Peningkatan Nilai Tambah Produk Pangan Lokal (Kolang-Kaling) melalui Inovasi dan Penguatan Kandungan Gizi, kemudian dari praktisi UMKM (Owner Rendang Mizaki) yaitu Sri Wahyuni, yang menyajikan pemaparan dengan judul Membangun UMKM Pangan dari Lokal Menjadi Unggul: Pengalaman, Tantangan, dan Strategi Sukses.

Penulis : Jonata

Editor : Reska/Harmen

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *