Koto Kaciak, AMC — Bupati Agam, Ir H Benni Warlis MM Dt Tan Batuah ikuti kegiatan tanam padi serentak seluas 50.000 hektare yang dilaksanakan di 25 provinsi di Indonesia, Kamis ,(30/4).
Kegiatan ini dipusatkan di Nagari Koto Kaciak, Kecamatan Tanjung Raya, Kabupaten Agam, sebagai bagian dari upaya nasional memperkuat ketahanan pangan.
Acara tersebut dihadiri secara virtual oleh Menteri Pertanian RI, Andi Amran Sulaiman, Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (PPSDMP), Idha Widi Arsanti, serta Gubernur Sumatera Barat, Mahyeldi, bersama sejumlah kepala daerah dari 25 provinsi.
Kepala Badan PPSDMP, Idha Widi Arsanti, menjelaskan bahwa kegiatan tanam padi serentak ini mencakup luasan 50.000 hektare yang tersebar di berbagai wilayah, termasuk kawasan optimalisasi lahan (oplah) 2024–2025 dan program cetak sawah rakyat (CSR) 2025.
Nagari Koto Kaciak dipilih sebagai salah satu lokasi karena merupakan daerah yang terdampak bencana banjir pada tahun 2025.

Ia menegaskan bahwa sektor pertanian memiliki peran strategis dalam menjaga ketahanan pangan nasional. Oleh karena itu, Kementerian Pertanian terus melakukan berbagai langkah percepatan untuk meningkatkan produksi pangan, salah satunya melalui program optimalisasi lahan dan cetak sawah rakyat.
Program ini bertujuan memanfaatkan lahan rawa, non-rawa, serta lahan marginal di luar lahan baku sawah menjadi lahan produktif untuk budidaya padi.
“Kegiatan hari ini merupakan bagian dari upaya bersama untuk memastikan lahan yang telah dioptimalkan dan dicetak dapat segera dimanfaatkan secara maksimal untuk produksi pangan,” ujarnya.
Sementara itu, Gubernur Sumatera Barat, Mahyeldi, menyampaikan bencana yang terjadi pada akhir 2025 memberi dampak signifikan terhadap sektor pertanian di daerahnya, yang selama ini menjadi tulang punggung perekonomian masyarakat.
Kerusakan tidak hanya terjadi pada lahan pertanian, tetapi juga pada infrastruktur pendukung seperti jaringan irigasi, jalan usaha tani, alat dan mesin pertanian, serta sarana penyuluhan.
Di tengah kondisi tersebut, Pemerintah Provinsi Sumatera Barat mengapresiasi dukungan pemerintah pusat melalui Kementerian Pertanian dengan alokasi anggaran APBN sebesar Rp228,2 miliar. Dari jumlah tersebut, Rp32 miliar dialokasikan khusus untuk perbaikan sawah yang terdampak bencana.

“Pemerintah provinsi berkomitmen memastikan seluruh program rehabilitasi berjalan tepat sasaran berbasis data, memperkuat koordinasi dengan pemerintah kabupaten/kota, melibatkan seluruh pemangku kepentingan, serta melakukan monitoring dan evaluasi secara berkelanjutan,” ungkapnya.
Bupati Agam, Benni Warlis, menambahkan, gerakan tanam serentak ini dapat terlaksana di Kabupaten Agam berkat dukungan Kementerian Pertanian melalui Direktorat Jenderal Lahan dan Irigasi, dengan total bantuan sekitar Rp29 miliar yang direalisasikan dalam dua tahap.
Bantuan ini menjadi harapan baru bagi pemulihan sektor pertanian pascabencana.
Menurutnya, kontribusi tersebut sangat berarti bagi masyarakat terdampak dalam mendorong pemulihan ekonomi berbasis pertanian.
Ia juga berharap adanya tambahan dukungan dari pemerintah pusat, berupa rehabilitasi lahan sawah seluas 200 hektare, perbaikan infrastruktur optimasi lahan, rehabilitasi jaringan irigasi, serta pembangunan sarana pendukung seperti embung dan dam parit.
Selain itu, kebutuhan alat dan mesin pertanian juga menjadi perhatian, di antaranya excavator mini, hand tractor, cultivator, corn sheller, thresher, dan hand sprayer.
“Kami menaruh harapan besar agar bantuan dari Kementerian Pertanian ini mampu mempercepat pemulihan sektor pertanian di Kabupaten Agam, sekaligus mengembalikan optimisme para petani dalam meningkatkan kesejahteraan,” katanya.
Pada kesempatan tersebut, Kementerian Pertanian juga menyerahkan bantuan lanjutan lebih kurang sebesar Rp29 miliar untuk tahun 2026, serta bantuan benih padi dari Pemerintah Provinsi Sumatera Barat untuk lahan seluas 550 hektare atau setara 13,75 ton benih kepada Pemerintah Kabupaten Agam.
Penulis : Harry
Editor : HARMEN




