Ketua Dekranasda Agam Kagumi Songket Karya Bernhard Bart, Dorong Pelestarian Tenun Minangkabau

  • Bagikan

Ampek Angkek, AMC – Komitmen melestarikan kerajinan tradisional melalui kreativitas dan inovasi menjadi perhatian Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Kabupaten Agam, Ny. Merry Benni Warlis, saat mengunjungi studio dan rumah tenun Songket Bernhard Bart di Jorong Panca, Nagari Batu Taba, Kecamatan Ampek Angkek, Kamis (15/10).

Kunjungan tersebut merupakan lanjutan dari kegiatan kerja dan pembinaan Ny. Merry ke sejumlah pelaku Industri Kecil Menengah (IKM) kerajinan di Nagari Batu Taba. Di studio tersebut, ia melihat langsung beragam karya songket sekaligus mendengarkan perjalanan Bernhard Bart dalam mengembangkan kerajinan tenun tradisional.

Bernhard Bart, warga negara Swiss yang mengelola usaha tersebut bersama Erika, menceritakan bahwa ketertarikannya terhadap tenun songket bermula pada 1996, ketika pertama kali datang ke Sumatera Barat. Keprihatinannya terhadap perkembangan kerajinan tenun saat itu mendorongnya untuk mempelajari sekaligus berupaya melestarikan kekayaan motif songket Minangkabau.

Upaya tersebut dilakukan melalui penelitian dan dokumentasi berbagai motif songket Minangkabau serta kain tenun dari sejumlah daerah lain di Sumatera. Dokumentasi itu kemudian menjadi referensi dalam proses pengembangan karya -karyanya.

Dalam perjalanannya, Bernhard bekerja sama dengan para penenun untuk mengembangkan teknik, pola, dan penggunaan bahan dalam menghasilkan kain songket. Ia juga memperlihatkan bagaimana motif yang diamati melalui gambar dan sketsa dapat diterjemahkan menjadi pola tenun yang membutuhkan ketelitian serta keterampilan tinggi.

Kemampuan mengolah gambar menjadi motif kain itulah yang menarik perhatian Ny. Merry. Ia mengaku takjub melihat bagaimana sebuah pola dapat diwujudkan menjadi karya songket dengan detail yang begitu rumit.

“Ini sangat luar biasa. Orang yang bisa mengerjakan ini pastilah memiliki imajinasi, kreativitas, dan bakat yang luar biasa, sehingga hanya dengan melihat motif pada gambar bisa menghasilkan pola yang mirip,” ujarnya.

Menurut Ny. Merry, keterampilan seperti itu merupakan potensi berharga yang perlu dijaga dan diwariskan kepada generasi berikutnya. Kerajinan songket tidak hanya menghasilkan produk bernilai seni, tetapi juga menyimpan pengetahuan, ketekunan, dan keterampilan yang membutuhkan proses belajar panjang.

Karena itu, ia berharap Dinas Perindustrian, Perdagangan, dan Ketenagakerjaan (Koperindag Naker) Kabupaten Agam dapat memberikan dukungan terhadap keberlanjutan studio dan rumah tenun tersebut, sehingga keterampilan menenun dapat terus dikembangkan dan diperkenalkan kepada generasi muda.

Dalam kesempatan tersebut, Bernhard juga menyampaikan niatnya untuk membangun sekolah tenun sebagai salah satu upaya memperluas kesempatan belajar sekaligus mewariskan keterampilan menenun kepada generasi berikutnya.

Kunjungan ini menjadi kesempatan untuk melihat secara langsung potensi kerajinan songket di Nagari Batu Taba, sekaligus pentingnya dukungan terhadap para pelaku IKM yang berupaya menjaga keberlangsungan kerajinan tradisional.

Melalui pembinaan dan pengembangan keterampilan, diharapkan tenun songket Minangkabau tetap lestari, semakin dikenal, dan terus memiliki tempat di tengah perkembangan industri kreatif.-
Penulis : Tori
Editor : Harmen

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *