Kiprah SMKN 2 Lubuk Basung, Konsisten Angkat Martabat Buah Melon

  • Bagikan

Lubuk Basung, AMC – Tak banyak yang tahu bahwa dalam satu dekade belakang Lubuk Basung pernah menjadi sentra buah melon di Sumatera Barat. Buah dengan nama latin Cucumis Melo L produksi Lubuk Basung ini bahkan telah merambah sejumlah daerah.

Namun, beberapa tahun terakhir masa keemasan melon produksi Lubuk Basung itu lambat laun seakan meredup. Tidak ingin predikat sentra melon itu menghilang, SMKN 2 Lubuk Basung terus optimis membudidayakan tanaman holtikultura tersebut.

Hinggi kini, SMKN yang dinakhodai Zulhatman itu masih bersemangat membudidayakan melon. Melalui, praktek lapangan Jurusan Agrobisnis Produksi Tanaman Pangan dan Holikultura, melon berkualitas tinggi terus diproduksi.

Guru Pembimbing Jurusan Agrobisnis Produksi Tanaman Pangan dan Holikultura SMKN 2 Lubuk Basung, Yan Dwi Syafrijen, SP mengatakan sejak 2008 lalu siswa-siswinya telah memproduksi melon melalui materi pelajaran praktek lapangan.

Syafrijen bercerita, pada masa awal pembudidayaan, nama SMKN 2 Lubuk Basung sangat harum sebagai produsen melon berkualitas. Bahkan, predikat SMKN Melon sempat disematkan di sekolah kejuruan negeri itu.

“Untuk Sumatera Barat, melon produksi SMK ini boleh dibilang yang nomor satu, bahkan orang menyebut sekolah ini SMK Melon,” ujar Syafrijen saat ditemui AMC di lahan melon SMKN 2 Lubuk Basung, Jumat (22/4).

Bahkan pada masa itu sambungnya, melon produksi SMKN 2 Lubuk Basung cukup melimpah dan merambah pasar buah di Bukittinggi, Solok dan Padang.

Tidak hanya SMKN 2 Lubuk Basung, sejumlah petani di masa itu juga bersemangat membudidayakan melon. Meski tidak sebanyak dulu katanya, saat ini masih ada beberapa petani yang masih konsisten membudidayakan melon.

Menurut Syafrijen, meredupnya kejayaan melon di Lubuk Basung lantaran adanya ekspansi pertanian di sejumlah daerah tetangga. Dikatakan, jika Lubuk Basung hanya bisa menanam 3000 batang sekali tanam, kubupaten tetangga bisa 50.000 dalam batang sekali tanam.

“Sehingga kuantitas produksi kita jauh tertinggal. Namun begitu, untuk kualitasnya sampai saat ini melon produksi kita masih tetap unggul, sampai sekarang daerah lain masih konsultasi budidaya melon kepada saya,” katanya.

Berbudidaya melon katanya lagi, terbilang gampang-gampang susah. Hal tersulit dari budidaya melon adalah cara pemupukan yang tepat dan teknik pemangkasan.

“Nah teknik-teknik tersebut menjadi salah satu materi ajar anak didik kami di SMK. Setelah kaya dengan teori, mereka kita giring mempraktekan di lahan betulan,” ucap Syafrijen.

Ia menambahkan, keuntungan lain yang diperoleh siswa di jurusannya adalah hasil dari penjualan melon bisa dimanfaatkan untuk budidaya selanjutnya dan kegiatan kelas lainnya.

“Nanti selepas mereka lulus, mereka juga bisa terjun langsung sebagai petani terdidik, tidak hanya budidaya melon, tapi juga budidaya jenis lain seperti buah naga, pare dan lain-lain,” katanya.

Kekinian, siswa Jurusan Agrobisnis Produksi Tanaman Pangan dan Holikultura SMKN 2 Lubuk Basung membudidayakan 24 bedeng tanaman melon. Pada bedengan itu kurang lebih terdapat 1000 batang tanaman melon.

Dari 24 bedeng itu, siswa SMKN 2 Lubuk Basung bisa memproduksi 2-3 ton melon dengan berat rata-rata 2-3 kg per buah.

“Melon ini termasuk tanaman tahunan sekali panen. Usia 70 hari sudah bisa dipanen. Untuk ukuran sekarang, kami memprediksi bisa menghasilkan 2-3 ton melon,” sebutnya.

Pemasaran melon produksi SMKN 2 Lubuk Basung, selain dikirim ke sejumlah pedagang di berbagai daerah, juga dilakukan dalam bentuk Agrowisata Petik Melon. Artinya, bagi pecinta melon bisa membeli dengan cara langsung dipetik di kebun.

“Dalam 1 ons kita banderol Rp1000, rata-rata berat buah 2-3 kg. Menurut pengalaman, panen melon ini bisa habis dalam 1-2 hari. Jadi agrowisatanya tidak selalu ada setiap hari,” tutupnya. (Depit)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.