Menu

Alwisral Imam Zaidallah, Pegawai Negeri yang Juga Penulis 17 Buku

  Dibaca : 77 kali
Alwisral Imam Zaidallah, Pegawai Negeri yang Juga Penulis 17 Buku

Laporan Depitriadi, AMCNews – Lubuk Basung

Disela kesibukannya sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS) di Kabupaten Agam, Drs. Alwisral Imam Zaidallah, M.Pd atau yang akrab disapa Buya meluangkan waktunya untuk aktivitas menulis. Dalam kurun waktu 32 tahun, Buya berhasil menulis 17 buku. Salah satu karya terbaiknya sudah dicetak sebanyak 23 kali.

Ketekunan menulis Buya bermula ketika menulis skripsi untuk menamatkan pendidikan di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Imam Bojol pada tahun 1995. Saat itu, dirinya merasa tertantang untuk menghadirkan karya tulis ilmiah yang berkualitas.

“Jadi ketika itu, saya pilih judul Pengelolaan Lingkungan Hidup Menurut Konsepsi Alqur’an. Saat itu, dosen sedikit tercengang, serius ingin menulis ini? Namun saya buktikan, hasilnya boleh dibilang memuaskan,” ujarnya kepada AMC, Kamis (22/10).

Buku pertama Alwisral Imam Zaidallah terbit pada tahun 1998 dengan judul 100 Khotbah Jumat Kontemporer jilid 1 dan 2. Buku yang menjadi best seller di masa itu diterbitkan oleh Kalam Mulia dengan kata pengantar ditulis Prof. Dr. Ir. H. Amien Rais, MA.

“Saat itu Bapak Amien Rais sangat populer sebagai bapak reformasi. Alhamdulillah buku pertama saya kata pengantarnya dari beliau, sehingga buku tersebut best seller dan sudah dicetak sebanyak 23 kali,” kenang Buya.

Setahun berselang, skripsi yang ditulisnya semasa kuliah diterbitkan Bumi Aksara. Di tahun yang sama, ia juga menulis buku Terapi Islam Terhadap 20 Penyakit Kronis Rohani.

Dirinya mulai hijrah ke Kabupaten Agam pada tahun 1996. Diangkat menjadi PNS pada tahun 2002. Dikatakan, aktivitas menulis tidak mengganggu pengabdiannya sebagai PNS, sebab aktivitas menulisnya dilakukan pada malam hari.

“Saya pernah menulis dua buku dalam waktu satu bulan ketika masih jadi staf biasa, namun saat menjabat fungsional aktivitas tersebut tidak seperti itu lagi, karena saya lebih mendahulukan pekerjaan kantor,” kata PNS yang kini dipercaya sebagai Kepala Bidang Perpustakaan di Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Agam ini.

Menurut pria kelahiran Pesisir Selatan 50 tahun silam ini, menulis merupakan aktivitas untuk keabadian. Meski suatu saat kelak si penulis sudah tidak lagi ada, karya-karyanya akan terus ada dan melekat diingatan pembacanya.

Sosok Buya Hamka menjadi motivator baginya untuk terus menulis. Bahkan secara gamblang dikatakan, obsesi dunia kepenulisannya ingin menyamai tokoh idolanya itu.

PNS yang lebih dulu dikenal sebagai penceramah ini sempat menaruh ‘iri’ dengan kepiawaian yang dimiliki Buya Hamka. Suatu ketika, ia pernah berdoa agar Tuhan memberikan bakat yang sama kepada dirinya.

“Saya berdoa, ya Allah, Engkau menganugerahi Buya Hamka kepandaian berbicara dan menulis, sementara saya hanya bisa berceramah saja, jadi saya ingin juga bisa menulis ya Allah. Alhamdulillah doa saya itu dikabulkan,” ujar Ketua Harian Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Agam itu.

Dikatakan, hingga kini total buku yang sudah diterbitkannya sebanyak 17 buku. 15 di antaranya merupakan buku bertajuk keagamaan, 2 merupakan buku biografi tokoh pemerintahan dan politik.

Bagi sosok penyuka olah raga catur ini, kunci produktif menulis hanya ada satu, yakni melawan rasa malas. Bahkan 17 buku yang sudah diterbitkannya itu, berawal dari tulisan tangan yang kemudian diketik ke mesin ketik oleh istri tercinta, Masdalinda, S.Ag.

“Kemudian setelah melawan rasa malas, agar menulis kita bisa lancar, perbanyaklah referensi kosa kata dengan cara rajin-rajin membaca, minimal membaca koran,” ungkapnya.

Menurutnya, penulis itu sama halnya dengan juru masak. Jika juru masak meramu bahan-bahan yang pas untuk menghasilkan masakan yang nikmat, begitu juga dengan penulis yang meramu pengetahuan ahli yang disajikan ke dalam satu buku.

“Intinya itu tadi, rajin-rajin membaca dan lawan rasa malas,” ucapnya lagi.

Beberapa judul buku yang telah ditulisnya antara lain 100 Kotbah Jumat Kontemporer 1 (Kalam Mulia, Jakarta) terbit tahun 2000. 100 Kotbah Jum’at Kontempurer 2 (Kalam Mulia, Jakarta) terbit tahun 2000.

Pengelolaan Lingkungan Hidup Menurut Konsepsi Al-Qur an (Bumi Aksara) terbit tahun 1999. Terapi Islam Terhadap 20 Penyakit Kronis Rehani terbit tahun 1999. 30 Sifat Rasulullah SAW Yang Mulia (Kalam Mulia, Jakarta) terbit tahun 2002.

Strategi Dakwah Dalam Membentuk Da’i Dan Khatib Profesional (Kalam Mulia) terbit tahun 2002. Mutiara Asmaul Husna Dalam AlQuran (Kalam Mulia, Jakarta) terbit tahun 2005.

Aristo Munandar Pemimpin di Hati Rakyat (sebuah Biografi) terbit tahun 2005, Leonardy Harmainy Dekat Di Hati Rakyat Sebuah Biografi terbit tahun 2008.

Saat ini, Alwisral Imam Zaidallah tengah menyiapkan sejumlah buku yang akan diterbitkan dalam waktu dekat. Kedepan, dirinya berharap intensitas menulisnya masih tetap bisa terjaga, sehingga bisa mengalahkan jumlah buku yang ditulis idolanya.

“Ini saya pikir sejalan dengan gerakan literasi yang dicanangkan bapak bupati, ASN juga bisa berkarya, salah satunya menjadi seorang penulis. Semoga kedepan buku-buku saya bisa terbit lagi,” ujarnya mengakhiri. (*)

REKOMENDASI UNTUK ANDA

KOMENTAR

Belum Ada Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Post Kategori

Arsip

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional