Tradisi Mambantai di Agam Gairahkan Perekonomian Warga

  • Bagikan

Lubuk Basung, AMC – Tradisi mambantai atau menyembelih ternak H-1 Idul Fitri ternyata memberi dampak tersendiri bagi perekonomian masyarakat di Kabupaten Agam.

Pasalnya, mambantai tidak hanya mendatangkan keuntungan bagi pedagang daging saja tapi juga menggairahkan ekonomi pedagang lainnya.

Pantau AMC di Nagari Tiku Selatan pada Minggu (1/5) dini hari, aktivitas pasar tradisional di daerah itu seolah tidak ada habisnya.

Meski sudah tengah malam, sejumlah pedagang, baik pedagang sayur-mayur, kelontong, pakaian, makanan, cindera mata dan sebagainya terlihat masih menjajakan dagangan.

Bahkan para pedagang mengaku tidak akan menutup lapaknya hingga Idul Fitri menjelang. Seperti halnya yang diutarakan Niyan (45) pedagang cabe dan rempah di Pasar Tradisional Tiku.

“Jika lapak ditutup takutnya tidak keburu, soalnya mulai dini hari warga di sekitar sini sudah mulai berbelanja kebutuhan,” katanya.

Ia menyebut, H-1 Idul Fitri pasar di daerah itu akan selalu ramai dengan lalu lalang para pembeli. Aktivitas tersebut tidak hanya pada siang hari, tapi juga berlangsung malam hingga dini hari.

“Bisa dibilang kalau mau lebaran ini pasar di sini buka 24 jam. Siang atau malam sama-sama ramai,” ungkapnya.

Hal senada juga diutarakan Sahur, salah seorang warga Tiku. Menurutnya, pasar yang menjadi pusat ekonomi warga tiga nagari di Kecamatan Tanjung Mutiara itu merupakan tempat sumber rezeki tersendiri bagi pedagang.

“Kalau kondisi sekarang ini terbilang sepi, sebelum Covid-19 dulu aktivitas pasar antara siang dan malam susah dibedakan,” katanya.

Menurutnya, tradisi mambantai atau menyembelih ternak menjelang lebaran menjadi salah satu penarik warga untuk ke pasar. Dikatakan, membeli daging sapi menjelang lebaran seolah menjadi keharusan.

“Karena ramai orang yang membeli daging, maka pedagang lainnya turut pula menggelar lapak dagangnnya, mana tahu untung,” ungkap dia.

Peri (30) salah seorang pedagang aksesoris berbahan perak di Pasar Tiku menyebut, omzet dagangannya meningkat signifikan menjelang H-2 Idul Fitri.

Bahkan ia mengaku membuka etalase aksesorisnya sejak pagi kemarin hingga malam takbiran.

“Malam takbiran biasanya jual beli saya cukup lumanyan, karena orang ramai pergi ke pasar,” ucapnya.

Ia pun mengakui, ramainya orang membeli daging hasil mambantai di daerah itu secara tidak langsung berdampak pada omzetnya.

“Memang yang banyak itu orang beli daging, tapi untungnya buat saya jual beli saya juga ikutan meningkat,” katanya. (Depit)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *