PSG Antokan Sakti, Wariskan Tradisi Leluhur Minangkabau ke Generasi Muda

  • Bagikan

Laporan Depitriadi, AMCNews – Lubuk Basung

Silek (silat) merupakan salah satu warisan leluhur dan kebudayaan nenek moyang masyarakat Minangkabau. Jika tidak diwariskan, bukan tidak mungkin warisan tersebut akan hilang ditelan zaman.

Kerisauan itulah yang dicoba dijawab Perguruan Silek Gaib (PSG) Antokan Sakti di Lubuk Basung, Kabupaten Agam. Grup yang dibesarkan Helmon Dt. Hitam itu terus menjaga tradisi leluhur dengan mewariskannya ke generasi muda Minangkabau.

Ketua PSG Antokan Sakti, Maizul Amri St. Pamenan mengatakan bela diri asli Minangkabau ini, selain sebagai pertahanan diri silek juga merupakan sarana pendidikan dan pembentukan karakter generasi muda Minangkabau.

Gerakan silek diciptakan oleh nenek moyang Minangkabau ratusan tahun silam, katanya, dengan nilai, kearifan, jati diri serta unsur yang mengambil gerakan-gerakan dari alam dan juga kehidupan.

“Silek yang merupakan tradisi asli Minangkabau banyak berpedoman kepada falsafah alam takambang jadi guru,” ujarnya saat dihubungi AMC, Sabtu (19/9).

Sementara itu, Helmon Dt. Hitam menyebut pendirian PSG Antokan Sakti, pada dasarnya sebagai wadah untuk melahirkan generasi yang berbudi pekerti dan berakhlak mulia. Seperti hakikat silek sebagai penyambung tali silaturahmi.

Pihaknya meyakini silek dapat mengasah karakter generasi muda dengan falsafah “lahia cari kawan, batin cari tuhan”. Falsafah tersebut diharapkan jadi bekal agar generasi muda Minang dapat berbaur dengan siapa saja dan dimana saja.

“Perguruan silek ini sebenarnya sebagai wadah pendidikan yang membina karakter serta mental generasi muda Minangkabau, yang dimaksudkan menjadi bekal dalam meniti kehidupan,” ucapnya.

Helmon Dt. Hitam menambahkan dengan tetap menjaga tradisi leluhur, PSG Antokan Sakti diharapkan berkontribusi pada peningkatan indeks pembangunan kebudayaan.

Menurutnya, jika generasi muda Minangkabau mendapatkan pelatihan dan pengalaman yang sama dari nilai-nilai silek, maka toleransi pun ikut menguat.

Bagi Helmon Dt. Hitam, silek warisan leluhur Minangkabau lebih kepada wujud pengendalian diri. Sehingga tak hanya untuk kemampuan fisik, pencak silat juga justru harus membuat orang menjadi rendah hati.

“Nilai itulah yang menurut kami akan sangat besar kontribusinya nanti terhadap ketahanan budaya, seperti sikap toleransi dan saling pengertian,” katanya.

Untuk itu, pihaknya berharap kedepan dengan makin banyaknya generasi yang kembali ke jati diri leluhur, maka persoalan pelik yang dijumpai kedepan akan mampu dilalui dengan tenang dan teratur.

“Oleh sebab itu, keberadaan perguruan silek ini dinilai sangat perlu. Selain melestarikan budaya leluhur, juga mengasa rasa dan karakter generasi muda sebagai penerus di masa yang akan datang,” ulasnya (*)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *