Menu

Usaha Turun Temurun, Kilang Gula Merah Jadi Sentra Ekonomi di Matur

  Dibaca : 336 kali
Usaha Turun Temurun, Kilang Gula Merah Jadi Sentra Ekonomi di Matur

AMCnews.co.id — Produksi gula merah merupakan usaha yang turun temurun bagi keluarga Asrul (57), salah seorang warga Nagari Lawang, Kecamatan Matur, Kabupaten Agam.

Tidak usahanya saja, cara proses pembuatannya juga dilakukan secara tradisional menggunakan kerbau, supaya ciri khas dari awal usaha itu berdiri tidak hilang.

Seperti dijelaskan Asrul kepada AMCnews.co.id, usaha itu berdiri sudah dua generasi dan sampai saat ini masih berjalan dengan baik, sehingga menjadi usaha yang dapat menunjang perekonomiannya.

Meski demikian, secara pribadi Asrul menekuni usaha itu sudah puluhan tahun, sehingga hasilnya dapat mencukupi kebutuhan keluarga sampai melanjutkan sekolah anak-anaknya.

“Saya memiliki lima orang anak, satu orang sudah berkeluarga, satu orang akan wisuda dan tiga orang lagi masih sekolah tingkat SD, SMP dan SMA,” ujar Asrul di tempat usahanya itu, Sabtu (8/9).

Ke lima anaknya disekolahkan dari hasil usaha pembuatan gula merah itu, bahkan dari hasil itu juga Asrul bisa membuat ruko untuk yang awalnya hanya warung kecil di tepi jalan dekat usahanya tersebut.

“Dulunya saya menjual gula merah diwarung kecil, alhamdulillah dengan hasil usaha ini pula dapat membangun satu unit ruko sebagai tempat berjualan,’ ujarnya.

Mengingat usaha gula merah ini usaha turun temurun, Asrul juga memberikan ilmu itu kepada anak-anaknya, sehingga mereka dapat membantu Asrul dalam bekerja, bahkan sudah bisa bekerja tanpa didampingi.

Dijelaskan, saat ini Asrul memiliki sekitar 1 hektar kebun tebu yang dimanfaatkanya untuk membuat gula merah, di mana pengilangannya dilakukan dengan cara tradisional.

“Sebelum pengilangan dimulai, tebu dibersihkan dahulu baru dikilang menggunakan kerbau yang membutuhkan waktu sekitar 3 jam, satu hari pengilangan menghasilkan 4 kuali atau 35 kilogram,” ujarnya.

Setelah pengilangan selesai, air tebu dimasak membutuhkan waktu lebih 2 jam sampai jadi gula merah, dan dicetak dengan percetakan yang dibuat dari bambu.

Peminat Gula merah Ni Des ini tidak hanya masyarakat lokal, tetapi warga negara asing juga menyukainya dengan harga jual Rp.20 ribu per kilogram. (AMC05)

REKOMENDASI UNTUK ANDA

KOMENTAR

Belum Ada Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Post Kategori

Arsip

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional