Cegah Kekerasan terhadap Anak, Ny Harneli dan Ny Merry Tekankan Peran Guru

  • Bagikan

Lubuk Basung, AMC – Perlindungan anak dari berbagai bentuk kekerasan membutuhkan keterlibatan semua pihak, terutama keluarga dan sekolah.

Guru tidak hanya bertugas menyampaikan materi pembelajaran, tetapi juga memiliki peran penting dalam mengenali kondisi psikologis, mendeteksi permasalahan serta memberikan pendampingan kepada anak didik.

Pesan tersebut mengemuka dalam Kampanye Pencegahan Kekerasan terhadap Anak di Sekolah, yang dibuka Ketua P2TP2A Limpapeh Rumah Nan Gadang Sumatera Barat, Ny Harneli Mahyeldi, di Hotel Sakura Lubuk Basung, Kamis (29/10).

Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya penguatan aksi nyata terpadu perlindungan perempuan dan anak.

Ny Harneli Mahyeldi menegaskan, sekolah seharusnya menjadi lingkungan yang aman dan ramah bagi anak untuk tumbuh dan berkembang.

Namun, kasus kekerasan terhadap anak masih menjadi tantangan serius yang membutuhkan perhatian bersama, baik di lingkungan rumah tangga maupun sekolah.

Berdasarkan data Sistem Informasi Online Perlindungan Perempuan dan Anak (Simfoni PPA), Provinsi Sumatera Barat pada 2025, tercatat 760 kasus kekerasan terhadap anak dengan total 851 korban.

Dari jumlah tersebut, sebanyak 412 korban atau 48,4 persen mengalami kekerasan di lingkungan rumah tangga, sedangkan 130 korban atau 15,2 persen berada di lingkungan sekolah.

Kelompok usia 13-17 tahun menjadi kelompok paling rentan, dengan jumlah 514 korban atau 60,4 persen dari keseluruhan korban.

Harneli juga menyoroti perkembangan tantangan perlindungan anak di era digital. Persoalan yang dihadapi anak tidak hanya berupa kekerasan fisik dan psikis, tetapi juga kekerasan berbasis gender di ruang digital, termasuk penyebaran konten negatif.

Karena itu, upaya pencegahan harus dilakukan secara proaktif melalui keterlibatan sekolah, keluarga, masyarakat serta berbagai lembaga terkait.

Guru Bimbingan dan Konseling (BK) bersama siswa juga diharapkan menjadi bagian penting dalam membangun budaya sekolah yang aman dan bebas kekerasan.

Sementara itu, Ketua TP PKK Kabupaten Agam, Ny Merry Benni Warlis turut hadir saat itu menekankan pentingnya peran guru, khususnya guru BK dalam mengenali permasalahan yang dihadapi anak dan remaja.

Ini katanya harus dimulai dari persoalan kekerasan, kesehatan mental, hingga berbagai isu sosial yang berkembang di kalangan remaja.

Menurutnya, guru perlu membangun kedekatan dengan anak didik dan tidak hanya berfokus pada penyampaian materi pelajaran di dalam kelas.

Sebab perhatian terhadap perilaku, keseharian, dan kondisi psikologis anak menjadi bagian penting dalam proses pendidikan.

Ia berharap Guru BK mampu menciptakan suasana komunikasi yang nyaman, sehingga anak berani menyampaikan perasaan, menceritakan persoalan yang dihadapi, serta meminta bantuan ketika mengalami kesulitan.

Melalui komunikasi yang terbuka, berbagai persoalan, seperti tekanan mental, gejala depresi, maupun konflik keluarga, diharapkan dapat dikenali lebih dini dan ditangani secara tepat.

Ny Merry juga menyoroti berbagai isu yang berkembang dan menjadi perbincangan di kalangan remaja, termasuk isu LGBT.

Menurutnya, perkembangan persoalan sosial tersebut perlu disikapi melalui pendampingan yang tepat, komunikasi terbuka, serta pendekatan edukatif yang mengedepankan kepedulian terhadap kondisi anak.

Ia menekankan bahwa guru perlu memahami persoalan yang dihadapi peserta didik agar dapat memberikan arahan dan pendampingan sesuai kebutuhan, tanpa mengabaikan hak anak untuk mendapatkan perlindungan.

Selain peran guru, Ny Merry menilai koordinasi dan kolaborasi lintas sektor juga perlu diperkuat. Sinergi antara P2TP2A, Dinas Pendidikan, pihak sekolah dan lembaga terkait diperlukan untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia di Sumatera Barat, sekaligus memastikan perlindungan anak berjalan secara berkelanjutan.

Ia mengimbau para guru yang mengikuti kegiatan tersebut agar menyerap materi yang disampaikan dan menerapkannya secara nyata di sekolah masing-masing.

Dengan demikian, kampanye pencegahan kekerasan terhadap anak tidak berhenti sebatas kegiatan sosialisasi, tetapi dapat diwujudkan melalui perubahan sikap, peningkatan kepedulian, dan penguatan sistem pendampingan di lingkungan pendidikan.
Penulis : Andri
Editor : Reska/Harmen

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *