Wamendikti Resmikan KKN Tematik 2026 di Agam, Dorong Kampus Jadi Pusat Solusi Persoalan Masyarakat

  • Bagikan

Lubuk Basung, AMC – Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi, Prof Fauzan menegaskan, perguruan tinggi tidak boleh lagi hanya menjadi lembaga pencetak lulusan, tetapi harus hadir sebagai pusat solusi bagi berbagai persoalan masyarakat. 

Pesan itu disampaikannya saat membuka Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik Kolaboratif 2026 di Kabupaten Agam, Selasa (4/8). Kegiatan ini melibatkan berbagai perguruan tinggi di bawah koordinasi LLDikti Wilayah X dan LLDikti Wilayah III.

Dengan begitu, Wamendikti mengapresiasi Pemerintah Kabupaten Agam yang membuka ruang kolaborasi antara pemerintah daerah, perguruan tinggi dan dunia usaha dalam menyukseskan program KKN Tematik ini.

Bahkan ia juga mengapresiasi Bupati Agam, LLDikti Wilayah X dan III, pimpinan perguruan tinggi, serta para dosen pembimbing yang telah menginisiasi model pengabdian masyarakat berbasis kolaborasi tersebut.

“Ini adalah awal yang baik untuk kebangkitan bersama menuju Indonesia yang lebih sejahtera. KKN Tematik di Kabupaten Agam menjadi contoh bagaimana perguruan tinggi dapat bekerja bersama pemerintah dan masyarakat untuk menyelesaikan persoalan nyata,” ujarnya.

Menurutnya, target Indonesia menjadi negara maju pada 2045 hanya dapat dicapai apabila seluruh elemen bangsa meninggalkan pola kerja sektoral dan membangun kolaborasi yang kuat.

Ia menyebut terdapat tiga aktor utama yang harus berjalan beriringan, yakni perguruan tinggi, pemerintah dan dunia usaha atau dunia industri.

“Problematika masyarakat hari ini sangat kompleks. Tidak mungkin diselesaikan satu pihak saja. Karena itu kolaborasi bukan lagi pilihan, tetapi sebuah kebutuhan,” tegasnya.

Dalam kesempatan tersebut, Wamendikti menggunakan analogi transformasi ulat dan ular untuk menggambarkan perubahan yang diharapkan dari dunia pendidikan tinggi.

Menurutnya, ular memang berganti kulit, tetapi karakter dan fungsinya tetap sama. Sementara ulat mengalami perubahan menyeluruh hingga menjadi kupu-kupu yang memiliki fungsi dan nilai baru.

“Transformasi yang kita inginkan bukan sekadar perubahan bentuk atau slogan, tapi perubahan karakter, perubahan fungsi, sehingga benar-benar memberikan manfaat bagi masyarakat,” katanya.

Wamen menegaskan, semangat gotong royong, kerja sama dan kolaborasi tidak cukup hanya menjadi jargon.

“Mulai hari ini yang kita butuhkan adalah bukti nyata bahwa kolaborasi mampu menghadirkan nilai tambah bagi masyarakat,” ujarnya.

Wamendikti juga meminta Pemerintah Kabupaten Agam bersama organisasi perangkat daerah mengidentifikasi persoalan-persoalan strategis yang dihadapi masyarakat. Selanjutnya, persoalan itu dapat menjadi fokus riset dan pengabdian perguruan tinggi melalui konsorsium yang difasilitasi LLDikti.

“Perguruan tinggi harus mengubah mindset. Kampus bukan hanya lembaga pemberi ijazah, tetapi lembaga pemberi solusi terhadap berbagai persoalan masyarakat,” tegasnya.

Ia menilai, selama ini kerja sama antarperguruan tinggi sudah berjalan, namun masih dilakukan secara sendiri-sendiri sehingga dampaknya belum maksimal.

“Kalau setiap perguruan tinggi bergerak sendiri, hasilnya kecil. Tetapi jika semua berkolaborasi, dampaknya akan jauh lebih besar bagi pembangunan daerah dan kesejahteraan masyarakat,” katanya.

Wamendikti menjelaskan, model kolaborasi perguruan tinggi sebenarnya telah dimulai sejak 2025 melalui proyek percontohan di Nusa Tenggara Timur (NTT). 

Program tersebut difokuskan pada penyelesaian persoalan stunting, pendidikan dan pengangguran, serta menunjukkan hasil yang positif.

Karena itu, ia berharap pelaksanaan KKN Tematik di Kabupaten Agam tidak berhenti setelah masa pengabdian mahasiswa selama dua pekan, tetapi berlanjut menjadi program berkesinambungan yang melibatkan perguruan tinggi, pemerintah daerah dan dunia usaha.

“Kita tidak ingin KKN hanya datang dua minggu lalu selesai, tapi yang dibutuhkan masyarakat adalah keberlanjutan dan konsistensi. Program ini harus menjadi agenda bersama sehingga manfaatnya benar-benar dirasakan masyarakat,” ujarnya.

Lebih lanjut, Wamendikti menegaskan bahwa ukuran keberhasilan sebuah perguruan tinggi bukan hanya dari jumlah lulusannya, melainkan dari sejauh mana kehadirannya mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat di sekitarnya.

“Perguruan tinggi yang baik adalah perguruan tinggi yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. Jika kampus berdiri di suatu daerah tetapi masyarakat di sekitarnya tidak merasakan manfaatnya, maka kita perlu melakukan introspeksi terhadap kebermaknaan kehadiran perguruan tinggi itu,” pungkasnya.

Dalam rangkaian pembukaan KKN Tematik kolaboratif 2026 ini, juga dilakukan penandatanganan MoU antara Pemkab Agam dengan LLDikti wilayah X.

Kemudian Deklarasi Konsorsium Mitigasi dan Pemulihan Bencana bersama perguruan tinggi negeri dan swasta, kementerian lembaga, dunia usaha dan pemerintah daerah.
Penulis : Andri
Editor : Reska/Harmen

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *