Lubuk Basung, AMC – Ada empat wasiat Rasulullah yang disampaikan kepada para sahabat untuk diteruskan kepada umat hingga akhir zaman. Wasiat ini semata- mata untuk menyelamatkan umat manusia baik di dunia maupun akhirat.
Demikian benang merah dari pengajian wirid mingguan Korpri Agam pada Jumat (25/8) di Masjid Agung Nurul Falah. Pengajian ini disampaikan Mubalig Sumbar, H. Bukhari Ismirad.
Disebutkan, setidaknya ada empat wasiat Rasulullah yang dapat dijadikan pedoman bagi umat manusia di muka bumi. Wasiat pertama, perintah untuk memperbarui kapal di tengah luasnya lautan yang akan diseberangi.
“Kapal di sini maksudnya adalah iman. Sementara lautan adalah dunia. Rasulullah menyuruh kita untuk selalu memperbarui iman dalam menghadapi dunia yang sangat luas ini,” sebutnya.
Dunia sebagaimana dikatakan Allah di dalam Alquran lanjutnya, diibaratkan sebagai tempat tipu daya. Manusia akan tertipu dengan dunia apabila iman tidak kuat.

“Dunia itu harta, tahta dan wanita. Carilah sebanyak -banyaknya untuk akhirat tapi jangan lupakan kehidupan dunia. Semuanya disediakan oleh Allah. Rezki telah disiapkan oleh Allah dengan cara apapun, tinggal manusia berusaha,” bebernya.
Kunci keimanan katanya lagi, adalah salat lima waktu. Salat tidak bisa diabaikan, diremehkan, dilecehkan. Siapa yang meninggalkan salat dengan seganja, maka seaungguhnya ia telah kafir.
“Harta akan membuat manusia lalai dengan ibadah. Tahta seperti kedudukan, jabatan demikian pula. Jika iman lemah, maka celakalah manusia,” ucapnya.
Kedua, persiapkan bekal. Maksudnya, Rasulullah menyuruh umat untuk takutlah kepada Allah. Hendaklah setiap diri, untuk memikirkan apa yang telah dipersiapkan untuk hari esok akhirat.
“Bekal untuk dunia sudah Allah berikan kepada ketika dengan nikmatNya, lalu bagaimana dengan bekal kita untuk akhirat, inilah yang harus kita pertanyakan,” katanya.
Untuk itu, sebelum ajal menjemput persiapkanlah bekal untuk kehidupan yang sebenarnya di akhirat kelak.
Lalu ketiga, wasiat Rasulullah untuk umatnya adalah mengurangi beban, karena tanjakan tinggi yang akan didaki. Maksud beban ini katanya, adalah dosa. Nabi mewasiatkan umatnya untuk mengurangi perbuatan yang menimbulkan dosa.
“Bagaimana cara mengurangi dosa adalah dengan melakukan sebenar-benarnya tobat, yakni taubatan nasuha. Apa itu, memikirkan dosa yang telah lalu dan tidak mengulanginya untuk masa depan,” sebutnya.
Terakhir, Rasulullah menyuruh umatnya untuk selalu ikhlas dalam beramal dan bekerja. Maksudnya, setiap perbuatan yang dilakukan selaku dilandaskan karena Allah SWT.
“Mudah-mudahan ibadah kita karena Allah SWT bukan karena apa-apa dan siapa-siapa. Semoga kita menjadi umat yang selama di dunia maupun akhirat,” tutupnya.
Penulis : Depit
Editor : Rezka/Harmen




